Eh gue mau cerita.
Tadi siang temen gueh di sekolah ada yang ngomong gini,
"Gue ga suka banget sama film. Bikin imajinasi ga karuan."
Kurang lebih begitu deh.
.............................
Ga salah kan? Jelas nggak. Tapi pasti heran.
Ternyata ada ya orang yang berpendapat kaya gitu?
Ada kok.
Tuhan tuh anti-mainstream. Dia gamau bikin karakter cuma satu-dua-sepuluh orang doang.
Dia bikin setidaknya 7 milyar tokoh dengan sifat yang beda-beda untuk memenuhi skenario dunia ciptaannya. Bumi ini.
Apa sih ul.
Balik ke topik. Jujur gue pribadi pun merasa heran dengan pernyataan temen gue itu. But instead of under-estimating, gue sih nyengir ajah. Malah gue kasian sama doi.
Emang sih film itu seringkali ga masuk akal. Mewujudkan sesuatu yang harusnya gaada. Menampilkan sesuatu yang kita harap jadi nyata. Pokoknya bikin kita pengen kaya di film gituh. Padahal kan dunia yang kita injek sekarang itu bukan sekedar imajinasi. Riil. Ga bisa jalan sesuai dengan yang kita mau. Ada Tuhan yang ngatur.
Tapi itu cuma di satu sisi.
Di sisi lain film itu pasti ada amanatnya. Hikmah, pelajaran yang bisa kita ambil dari durasi yang panjang itu. Liat film kartun 'Larva', gitu-gitu juga ada amanatnya. Jangan iseng, ntar celaka. Liat lagi film yang belom lama ini keluar, The Conjuring. Apa hikmahnya? Yang simpel aja, do'a dulu sebelum tidur.
Agama pun menuturkan kalo semua hal di dunia ini pasti ada hikmahnya kan?
Selain itu, nonton film juga salah satu cara buat apresiasi karya orang. Menghargai jerih payah produser dan sutradara film yang udah buang-buang duit hanya untuk membagikan khayalan yang dia punya dalam bentuk visual. Ga jarang juga kan film menambah wawasan, terutama tentang sejarah dan teknologi.
Untuk gue yang movie freak, nonton film itu kayak pelarian. Jadi setelah menghadapi kehidupan nyata yang hectic, keras, ada-ada aja, gue nonton film buat ngebuka pikiran gue dengan cara liat adegan aneh, lucu, ajaib, keren dan menyenangkan di film. Adegan-adegan yang berkesinambungan itu bikin gue percaya, kalo dibalik dunia dan kenyataan-kenyataannya yang pahit ini, pasti ada adegan nyata yang bikin kita senyum, ketawa, dan yang paling utama: bersyukur.
Selasa, 29 Oktober 2013
Minggu, 20 Oktober 2013
17: Restart.
18 Oktober tahun ini Aul menginjak umur yang ke 17.
Umur yang menyenangkan bagi sebagian orang, umur yang kerap kali dirayakan.
Sebut gue orang aneh atau freak dan sejenisnya,
tapi kalo itu tentang ulang tahun gue, gue sedih.
Sedih inget dosa.
Lebay kedengerannya, karena semua orang juga pasti kaya gitu tapi tetep bisa ngerayain dengan bahagia. But not for me.
Dosa yang paling kepikiran adalah dosa karena gue ngerasa belom membahagiakan orang tua gue di trimester awal kelas 12.
Gue ngerasa belom menguasai pelajaran secara maksimal. Kalo ulangan suka nge blank, padahal harusnya bisa.
So I guess I don't deserve any gifts.
Tahun ke-17 ini pengen gue jadiin titik nol, dimana semua dimulai lagi. Mulai nyusun strategi, nyusun rencana, gimana caranya biar belajarnya bener, teratur, biar ngerti pelajaran, biar bisa dapet fakultas dan jurusan yang dipengenin, biar bisa nyenengin orang tua. Mulai fokus mikirin masa depan, mulai motivasi diri sendiri... karena dari sinilah kehidupan Aul yang sebenarnya akan dimulai.
Makanya gue gamau terlalu bersenang-senang.
Alhamdulillah gue panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena Ia telah menghadiahkan gue orang-orang yang superdupermegaultra baik, peduli, dan menyayangi gue tanpa pamrih. I thank God for my mom, dad, and my crazy-yet-irreplaceable friends with their wild ideas every single day. Mereka inget ulang tahun gue aja, itu merupakan sesuatu yang layak dibalas. Apalagi sampe ngucapin, ngasih kado, bahkan sampe bikin surprise segala. Even if it's late.
That's why, thank you.
Maaf udah bikin 18 Oktober kalian jadi lebih repot dari 18 Oktober-18 Oktober sebelumnya. Semoga Allah membalas semua kebaikan yang kalian lakukan. Maaf Aul ga pernah bisa bales tepat waktu.
Maybe it's just a simple gift,
but I will always remember the way you guys give it.
Thank you. All the way from Bojonggede.
To Eno Khairunnisa, Gita Yuliana, Nurisya Febrianti, Dhea Rifa, Dida Syarifa, and Shafira Fauzia.
Umur yang menyenangkan bagi sebagian orang, umur yang kerap kali dirayakan.
Sebut gue orang aneh atau freak dan sejenisnya,
tapi kalo itu tentang ulang tahun gue, gue sedih.
Sedih inget dosa.
Lebay kedengerannya, karena semua orang juga pasti kaya gitu tapi tetep bisa ngerayain dengan bahagia. But not for me.
Dosa yang paling kepikiran adalah dosa karena gue ngerasa belom membahagiakan orang tua gue di trimester awal kelas 12.
Gue ngerasa belom menguasai pelajaran secara maksimal. Kalo ulangan suka nge blank, padahal harusnya bisa.
So I guess I don't deserve any gifts.
Tahun ke-17 ini pengen gue jadiin titik nol, dimana semua dimulai lagi. Mulai nyusun strategi, nyusun rencana, gimana caranya biar belajarnya bener, teratur, biar ngerti pelajaran, biar bisa dapet fakultas dan jurusan yang dipengenin, biar bisa nyenengin orang tua. Mulai fokus mikirin masa depan, mulai motivasi diri sendiri... karena dari sinilah kehidupan Aul yang sebenarnya akan dimulai.
Makanya gue gamau terlalu bersenang-senang.
Alhamdulillah gue panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena Ia telah menghadiahkan gue orang-orang yang superdupermegaultra baik, peduli, dan menyayangi gue tanpa pamrih. I thank God for my mom, dad, and my crazy-yet-irreplaceable friends with their wild ideas every single day. Mereka inget ulang tahun gue aja, itu merupakan sesuatu yang layak dibalas. Apalagi sampe ngucapin, ngasih kado, bahkan sampe bikin surprise segala. Even if it's late.
That's why, thank you.
Maaf udah bikin 18 Oktober kalian jadi lebih repot dari 18 Oktober-18 Oktober sebelumnya. Semoga Allah membalas semua kebaikan yang kalian lakukan. Maaf Aul ga pernah bisa bales tepat waktu.
Maybe it's just a simple gift,
but I will always remember the way you guys give it.
Thank you. All the way from Bojonggede.
To Eno Khairunnisa, Gita Yuliana, Nurisya Febrianti, Dhea Rifa, Dida Syarifa, and Shafira Fauzia.
Langganan:
Postingan (Atom)
