Saat ini sedang mengetik sambil mendengarkan adzan Isya berkumandang.
What a hiatus, isn't it?
Kampus menyita banyak sekali waktu. Banyak sekali hingga blog ini tidak tersentuh selama kurang lebih satu tahun.
Dan banyak sekali peristiwa yang sudah terjadi selama jangka waktu satu tahun itu.
What brings me back here is an urge to write. Before this, Twitter was the safest place to spam. You know, to write about everything I see, everything I feel, everything I watch, everything I read. But because some reasons, I didn't think that way anymore. So I typed the URL above and, yah... made a new entry. I thought this place is safer.
Tapi setelah beberapa menit disini, gue masih tetep ngerasa ga aman.
To people who read this entry, please don't judge me; give me an advice about what I should do instead.
So, I'm not gonna waste another minute, let's get on point.
Kalau temen lo sakit, lo pasti jenguk ya. Apalagi temen yang udah kaya klop banget gitu kan.
Kalau sakitnya suka kambuh gimana?
Ya jenguk lah ya tetep.
Setiap gue mikirin hal ini, gue merasa gue gagal tumbuh menjadi orang dewasa, dimana seharusnya gue udah ngerti manner, adab, tatakrama..
dimana seharusnya gue udah harus peduli sama sekitar gue.
This is sad but, I don't find a necessary reason to visit a sick friend for the second time, or the third time, fourth, fifth, and so on, with the same disease.
Sumpah ngetik kalimat tadi pun gue ngerasa jahat banget.
Gue mikir kaya... gue harus bicara apa ketika gue sampai di lokasi? Topik apa yang harus gue lemparkan? Gue ga mungkin kan cuma diem aja, bilang, "ini ada bingkisan, semoga cepat sembuh.." lalu pulang? Dan ga lucu juga kalau harus bilang, "Sakit apa?"
Ya gue bisa sih bertanya macem, "Dari kapan kambuhnya?" atau "Kenapa bisa kambuh lagi?".
Gue pengen ada sesuatu yang bisa ngegerakin hati gue biar gue ga sebegini cueknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar